- oleh Lendah2_KP2024
- 21 November 2025 10:32:30
- 56 views
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT RASIONAL DI PUSKESMAS LENDAH 2
Untuk mewujudkan pengendalian resistensi antimikroba, penggunaan antibiotik yang tepat, efektif, efisien, dan aman dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat, dan penggunaan obat secara rasional di Indonesia, diperlukan pedoman penggunaan antibiotik. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibitik, penggunaan antibiotik harus berdasarkan resep dokter atau dokter gigi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Dilansir dari Modul Penggunaan Obat Rasional oleh Kementarian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2011 salah satu dampak penggunaan obat yang tidak rasional adalah peningkatan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Sebagai contoh, penderita diare akut non spesifik umumnya mendapatkan antibiotika. Hal yang sama juga terjadi pada penderita ISPA non pneumonia pada anak yang umumnya mendapatkan antibiotika yang sebenarnya tidak diperlukan.
Puskesmas Lendah 2 juga melakukan monitoring penggunaan antibiotik pada diagnose diare akut non spesifik dan diagnosa ISPA non pneumonia. Perhitungan didapatkan dengan membagi jumlah pasien yang mendapatkan antibiotik pada diagnosa diare non spesifik dengan jumlah lembar resep pada diagnosa diare non spesifik, dan membagi jumlah pasien yang mendapatkan antibiotik pada diagnosa ISPA non pneumonia dengan jumlah lembar resep pada diagnosa ISPA non Penumonia. Hasil rerata indikator persentase penggunaan antimikroba rasional tahun 2024 adalah 0%, hal ini berarti penggunaan antimikroba Puskesmas Lendah 2 di tahun 2024 di telah rasional.

Dihimbau bagi masyarakat untuk menggunakan antibiotik dengan bijak agar tidak terjadi resistensi antibiotik. Mari bersama-sama lakukan himbauan 5T dari kementerian kesehatan : Tidak membeli antibiotik tenpa resep dokter, tidak menggunakan untuk selain infeksi bakteri, tidak menyimpan antibiotik, tidak memberikan sisa antibiotik kepada orang lain, dan tanyakan informasi kepada dokter/apoteker. Ditambah lagi dengan selalu menghabiskan antibiotik yang diberikan dan tidak menjadikan antibiotik sebagai obat darurat di rumah. Masalah yang akan dihadapi ketika pasien telah mengalami resistensi antibiotik, yaitu ketika suatu saat ditemukan pasien yang benar-benar menderita infeksi bakteri, pasien terpaksa harus diberikan antibiotik lain yang bukan pilihan utama obat pilihan (drug of choice) dari infeksi tersebut atau pilihan obat antibiotik lain yang lebih tinggi.
